Kajian Puisi

Puisi
BAB I
PENDAHULUAN

      
   A.    Latar Belakang
Karya sastra secara umum bisa dibedakan menjadi tiga: puisi, prosa, dan drama. Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poesis, yang berarti membangun, membentuk, membuat, menciptakan. Sedangkan kata poet dalam tradisi Yunani Kuno berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekpresi yang kongkret dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama. Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin. Jadi bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengekspresikan secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya, digubah dalam wujud dan bahasa yang paling berkesan.
Puisi yang kami analisis dalam makalah ini adalah puisi “Sajak Anak Muda” karya W. S Rendra yang dijuluki “Si Burung Merak” dengan menggunakan sturkur batin dan fisik puisi. W. S. Rendra di juluki si Burung Merak bermula ketika Rendra dan sahabatnya dari Australia berlibur di Kebun Binatang Gembiraloka, Yogyakarta. Di kandang merak, Rendra melihat seekor merak jantan berbuntut indah dikerubungi merak-merak betina. “Seperti itulah saya,” tutur Rendra spontan. Kala itu Rendra memiliki dua isteri, iaitu Ken Zuraida dan Sitoresmi. Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat. Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an. “Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India. Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995). Untuk kegiatan seninya Rendra telah menerima banyak penghargaan, antara lain Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954) Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956); Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970); Hadiah Akademi Jakarta (1975); Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976) ; Penghargaan Adam Malik (1989); The S.E.A. Write Award (1996) dan Penghargaan Achmad Bakri (2006).
Sehubungan dengan hal di atas, maka akan diteliti adalah analisis puisi dengan judul “Analisis Unsur fisik dan unsur batin Puisi yang terdapat dalam Sajak Anak Muda karya W.S Rendra
B.  Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini berkenaan dengan analisis puisi Sajak Anak muda, yaitu:
1.      Bagaimana analisis dengan struktur batin pada puisi Sajak Anak Muda?
2.      Bagaimana analisis dengan struktur fisisk pada puisi Sajak Anak Muda?

C.  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari analisis struktur batin dan fisik puisi Sajak Anak Muda yaitu:
1.    Untuk memahami seperti apa analisis puisi dengan struktur batin yang terdapat dalam puisi Sajak Anak Muda
2.    Untuk memahami seperti apa analisis puisi dengan struktur fisik yang terdapat dalam puisi Sajak Anak Muda.

D.  Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah tentang analisis struktur batin dan fisik puisi Sajak Anak Muda terbagi menjadi dua yaitu manfaat teoretis dan praktis, yaitu:
1.    Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis yang diharapkan dalam penulisan makalah ini adalah dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam bidang kesastraan seperti Kajian Puisi.
2.    Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang terdapat dalam penulisan makalah ini adalah.
a.    Bagi guru Bahasa Indonesia
Hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat digunakan oleh guru Bahasa Indonesia sebagai satu alternatif pembelajaran sastra, khususnya dalam pembelajaran Kajian Puisi.
b.    Bagi penyusunan bahan ajar Bahasa Indonesia
Hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu alternasi bahan informasi bagi penyusunan-penyusunan materi kesastraan, khusunya dalam materi Kajian Puisi.
c.    Bagi para pembaca
Hasil penulisan makalah ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif bahan informasi bagi para pembaca dalam pembelajaran sastra, khusunya dalam materi Kajian Puisi.













BAB II
KAJIAN TEORI
A.  Hakikat Puisi
Puisi merupakan suatu karya sastra selain prosa dan drama. puisi adalah karya sastra yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias. Menurut Herman J. Waluyo, puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan batin. Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
Puisi berbeda dengan prosa Slametmulyana (1956:112) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua, puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga, di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir. Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987). Puisi merupakan aktivitas yang bersifat pencurahan jiwa yang padat, bersifat sugestif dan asosiatif. Sedangkan prosa merupakan aktivitas yang bersifat naratif, menguraikan, dan informatif (Pradopo, 1987). Sehingga puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa menyatakan sesuatu secara langsung.
B.  Struktur Batin dan Fisik Puisi
Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik, bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut. Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik. Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan. Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi. Bunyi dibentuk oleh rima dan irama.
Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata. Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan. Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan.

1.    Struktur Batin Puisi
Struktur batin puisi atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut.
a.    Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
b.    Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
c.    Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dan lain lain.
d.   Amanat/tujuan/maksud (intention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari  sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.


2.    Struktur Fisik Puisi
Struktur fisik puisi, atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.
a.    Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
b.    Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
c.    Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
d.   Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
e.    Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
f.       Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi (kata), dan sebagainya (Waluyo, 187:92), dan pengulangan kata/ungkapan. Ritma adalah tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.


BAB III
PEMBAHASAN DAN HASIL ANALISI
  1. Sajak Anak Muda
Oleh: W.S Rendra
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum.
Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.
Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja?
Inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.
Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.
Dasar keadilan di dalam pergaulan.
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.
Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri.
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.
Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai,
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.
Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa henti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa?
Kita hanya menjadi alat birokrasi!
Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan –
menjadi benalu di dahan.
Gelap. Pandanganku gelap.

Pendidikan tidak memberikan pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan.
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengagnguran.
Apakah yang terjadi di sekitarku ini?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.
Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini?
Apakah ini? Apakah ini?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.
Mengapa harus kita terima hidup begini?

Seseorang berhak diberi ijasah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.
Bagaimana? Apakah kita akan terus diam saja?
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagai bendera-bendera upacara,
sementar hukum dikhianati berulang kali.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.
Kita berada di dalam pusaran tata warna
yang ajaib dan tak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar
ke arah udara.
Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakkan oleh angkatan kurang ajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.
  1. Unsur fisik yang terdapat dalam Sajak Anak Muda oleh W.S Rendra
1.      Unsur fisik

a.       Diksi (pilihan kata)
Diksi yang terdapat dalam Sajak Anak Muda karya W.S Renda banyak menggunakan nada-nada kekecewa, seperti pemuda, gagap, kelap, remang-remang, gejala-gejala, lalu lalang, marah, sebal, kegagapan, birokrasi, rumit, kurang ajar, dan lain-lain.
b.      Bunyi
Bunyi yang terdapat dalam Sajak Anak Muda karya W.S Rendra mengungkapkan kekesalan.
Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperankan oleh angkatan kurangajar
Daya hidup telah diganti oleh nafsu
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan
Kita adalah angkatan yang berbahaya

c.       Majas
Majas yang terdapat dalam Sajak Anak Muda karya W.S Rendra adalah majas metafora  terdapat di bait satu, baris satu kita adalah angkatan gagap , ”Mengiaskan seseorang yang tidak dapat berbicara dalam menghadapi sesuatu”. Majas Simile (Perumpamaan) terdapat pada Bait 10 baris 6 Ah, di dalam kemabukanWajah berdarah Aku terlihat sebagai bulan, Penyair menggambarkan keresahan yang terjadi, sehingga hal yang burukpun menjadi indah. Penyair mengajak kita untuk tetap berada pada jalan yang benar dan menyelasaikan segala permasalahan dengan baik sehingga kita dapat terhindar dari hal yang dapat menimbulkan keresahan dalam diri kita. Bait 12 baris, Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi Dianggap bunga plastic Sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi, Maknanya adalah Penyair menggambarkan bahwa ilmu yang mereka terima tidak berguna, tidak berarti apa-apa, karena masih saja kita melihat adanya kebangkrutan dan banyak korupsi. Dalam hal ini penyair mengajak kita untuk dapat memanfaatkan sebaik mungkin ilmu yang kita miliki agar dapat berguna bagi masyarakat dan bangsa. Majas Erotesi, Apakah kita persiapkan Untuk menjadi alat saja? Apakah dengan keadaan yang seperti ini kami hanya dapat menjadi alat seperti yang diinginkan oleh penguasa?. Penyair merasa tidak dapat berbuat apa-apa bahkan untuk berkreativitas dan berekspresi tidak diberi kesempatan, kita hanya menerima apa yang sudah ada.
d.      Tifografi
Tipografi yang terdapat dalam Sajak Anak Muda karya W.S Rendra yaitu.
Gelap
pandanganku gelap
Pendidikan
tidak member pencerahan
Latihan-latihan
tidak member pekerjaan
Gelap
keluh kesahku gelap
Orang yang hidup
Di dalam pengangguran
e.       Imajinasi dalam sajak anak muda karya W.S Rendra yaitu
Dalam imajinasi visualnya yaitu sekolah, penjara.
f.       Kata konkret dalam sajak anak muda karya W.S Rendra yaitu:
Remang-remang.
  1. Unsur Batin yang terdapat dalam Sajak Anak Muda oleh W.S Rendra
a.       Tema
 Dalam puisi “Sajak Anak Muda” karya W.S. Rendra di atas, penyair mengungkapkan dalam puisinya bahwa ada yang kurang pada pendidikkan di negeri kita, yakni pendidikan politik, filsafat dan logika yang menyebabkan generasi muda kita menjadi generasi yang gagap tidak pernah mengerti uraian pikiran lurus, dan hanya dipersiapkan untuk nmenjadi alat belaka, karena pendidikan tidak pernah melatih berfikir dan bertukar fikiran, maka yang dihasilkan ialah generasi muda yang patuh, santai, dan masa bodoh terhadap lingkungan dan massa depannya.
b.      Amanat
Penyair ingin menyarankan dan memberikan motivasi kepada generasi muda agar dapat menyalurkan ilmu pengetahuan yang ia miliki, sehingga tidak dijadikan tenaga kerja murah bagi kaum kapitlis.
c.       Perasaan penyair
Sang penyair merasa kecewa dan sedih pada sistem pendidikan di Indonesia pada saat itu. Para pemuda dianggap sebagai generasi terpelajar yang berpendidikan tetapi masih saja mau diatur-atur atau diperdaya oleh penguasa (kapitalis).
d.      Nada (suasana)
Suasana yang dirasakan penyair adalah kekecewaan yang begitu mendalam terhadap sistem pendidikan dan generasi pemuda saat itu dan kaum kapitalis yang selau mengatur dan menindas generasi muda.








BAB IV
A.    Simpulan
1.      Unsur fisik yang terdapat dalam Sajak Anak Muda oleh W.S Rendra
2.      Unsur Batin yang terdapat dalam Sajak Anak Muda oleh W.S Rendra



























Judul: Kajian Puisi; Ditulis oleh bakri jevieza; Rating Blog: 5 dari 5

Baca juga tulisan menarik lainnya

1 komentar:

Poskan Komentar